Geosentris dan Heliosentris

by agnassetiawan
Image

copernicus

Dalam ilmu Astronomi, teori Geosentris dipopulerkan oleh seorang ilmuwan Yunani bernama Ptolemy. Teori inilah yang dulu dipercayai oleh orang-orang Yunani kuno. Walau begitu, ada juga di antara mereka yang tidak mempercayainya.

Pada masa-masa kejayaan Islam, para cendekiawan Muslim mulanya mengadopsi dan menggunakan konsep Geosentris-nya Ptolemy. Nah di sinilah, cendekiawan-cendekiawan Muslim tersebut menemukan ketidakcocokan teori Geosentris terhadap fakta empiris yang ada. Salah satu ilmuwan yang memberikan kritik terhadapnya adalah Ibn al-Haytam. Kemudian berkembanglah berbagai perhitungan astronomis yang didasarkan pada konsep Heliosentris (lihat: Islamic Astronomy).

Konsep Heliosentris itu sendiri dikenal dipopulerkan oleh Copernicus (ilmuwan Eropa). Namun tidak dapat dipungkiri, dalam merumuskan konsep tersebut ia turut mengadopsi pemikiran dan perhitungan para ilmuwan Muslim sebelumnya. Hingga saat ini konsep Heliosentris-lah yang terbukti benar secara empiris dan tidak ada fakta yang bertentangan dengannya.

Image

model tata surya copernicus

Sains bukanlah buatan orang Kaafir (maaf, ada yang berkata seperti itu soalnya). Ia adalah Sunnatullah, yang dengannya terbukti bahwa alam ini berjalan dengan keteraturan yang luar biasa, yang dapat mengantarkan kita kepada bukti akan adanya Sang Pencipta.

Sampai sekarang masih banyak kalangan umat islam yang meyakini bahwa bumi berbentuk dataran luas sedangkan matahari dan bulan mengelilingi bumi. Karena memang itulah yang mereka saksikan setiap harinya. Paham Geocentris sudah tidak dipakai lagi sekarang ini karena tidak sesuai dengan kenyataan. Sekarang orang lebih suka memakai paham heliocentris yang menyatakan Mahatari sebagai pusat rotasi jagat raya. Tetapi sebenarnya teori heliocentri itu sudah kebablasan karena Matahari ternyata bukan pusat alam semesta tetapi pusat orbit dari planet tatasurya saja.
Pertanyannya adalah; apakah ada keterangan al qur’an yang mendukung teori heliocentris atau Geocentris tersebut?. Kalau diteliti ternyata Al qur’an bersifat netral dalam hal ini, bahkan pada surat al an’aam ayat 96, seolah-olah Allah mendukung kedua paham tersebut. Artinya Al Qur’an membenarkan paham Geocentris dan paham Heliocentris karena kedua paham tersebut dapat dimamfaatkan untuk kemasylahatan umat manusia. Al qur’an juga membolehkan kita menggunakan sistim penanggalan berdasarkan sistim Masehi atau sistim Hijriah karena Allah sudah menyediakan bulan dan Matahari sebagai alat untuk perhitungan waktu,
Ternyata Al Qur’an lebih luas dan lebih dewasa dalam mengajarkan tentang filsafat sain untuk manusia. Sementara manusia saling menghujat dan saling menyalahkan dalam menganut suatu pendapat sain , bahkan saling menyombongkan diri kalau merasa lebih hebat dengan pengetahuannya. Padahal sain itu adalah ciptaan Allah dan manusia harus selalu mensyukuri nikmat Allah dengan apa yang sudah manusia peroleh dari sain dan teknologi itu. Bahkan Allah menyuruh manusia harus belajar dan mencurahkan seluruh aktifitas hidupnya untuk mencari dan menguji fenomena alam ciptaan Allah sebagaimana yang ditantumkan di dalam surat Ali Imran ayat 190-191.

Seharusnya umat islam harus menjalankan perintah dan ketentuan surat Ali Imran ayat 190-191 diatas, sehingga umat islam tidak harus selalu mengikuti pendapat dan hipotesa tanpa diuji sebelumnya, apalagi hipotesa yang bertentangan dengan keterangan Allah atau tidak mendukung harkat keimanan umat muslim sesuai dengan penjelasan Al Qur’an.
Mengenai teori Heliosentris saja , umat islam masih banyak yang pro dan kontra, sementara Allah sudah memberi petunjuk. Masih banyak umat muslim yang tidak mempecayai bahwa Bumi mengorbit matahari dengan sudut inklinasi 23,5 derajat, padahal di dalam al Qur’an banyak sekali ayat yang menyuruh umat muslim mempelajari tentang bayang-bayang matahari. Sesungguhnya pada surat AL Furqan ayat 45 dan surat Al Nahl ayat 48, jelas-jelas Allah menantang manusia untuk mempelajari fenomena bayang-bayang baik terhadap perubahan ukurannya maupun perobahan arah dan posisinya. Itu semua adalah petunjuk untuk menganalisa-nya dan tentu saja harus cocok dengan bukti ilmiah yang sebanarnya.

Sumber: http://id.shvoong.com/society-and-news/spirituality/1979853-paham-geosentris-dan-heliosentris/#ixzz1qINF5cXt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: