Beberapa Predikat Guru Dalam Kurikulum

by agnassetiawan

kartun-ngajar2

1. Guru Sebagai Budak Kurikulum

Predikat guru sebagi budak kurikulum secara sederhana (naif) diartikan sebagai perilaku guru dalam proses pembelajaran baik sebagai guru kelas, maupun sebagai sebagai guru mata pelajaran yang sekedar menyampaikan sejumlah bahan ajar sebagaimana yang ada atau yang ditampilkan oleh kurikulum diumpamakan yang seharusnya disampaikan guru dalam proses pembelajaran itu suatu profil atau penampang (irisan) dari sebuah balok kayu, maka yang disampaikan oleh guru yang disebut sebagai budak kurikulum, hanyalah lingkaran paling dalam, sedangkan lingkaran­-lingkaran yang semakin membesar ke arah, luar tidak disentuhnya.

2. Guru Sebagai Pengembang Kurikulum

Hasil pengembangan kurikulum dapat diumpamakan sebagai penampang (irisan) dari sebuah balok yang lengkap mulai dari lingkaran paling dalam yang diumpamakan sebagai kurikulum, dan lingkaran-lingkaran yang berkembang ke arah luar. Sehingga secara keseluruhan balok kayu itu pasti akan lebih berarti atau bermanfaat dari pada sekedar bagian paling dalam dari balok tersebut.

Keberhasilan pengembangan kurikulum akan bergantung pada sejumlah faktor yang antara lain, (1) kemampuan guru dalam memperluas dan memperdalam setiap materi pembelajaran, baik di dalam kelas maupun di luar kelas, (2) kemampuan dan keterarnpilan guru dalam memiliki metode dan media dalam proses pembelajaran, (3) kemampuan dan keterampilan guru dalam menumbuhkan dan mengembangkan etos belajar yang tinggi bagi setiap peserta didiknya, dst.

 3. Guru adalah Kurikulum

Predikat guru ini secara sederhana dapat diartikan bahwa, hal ihwal tentang kurikulum “sagalana ges aya dina hulu”, segalanya sudah ada dalam kepala, telah luluh dalam profesi seorang guru baik aspek rasional, emosional, sosial, maupun aspek spiritualnya. Predikat guru seperti tadi, dimana saya, kapan saja dan pada situasi bagaimanapun akan mampu menunaikan profesinya secara signifikan. Sebagai contoh, seorang Ajengan (Kyai) yang menjadi pimpinan pesantren dan sekaligus guru bagi para santrinya dan sekaligus pula kyai itu adalah kurikulum bagi para peserta didiknya (santri), pada suatu saat ia bisa mengatakan kepada seorang atau sekelompok santrinya, “Kamu atau kalian telah saatnya pulang ke kampung (desa) masing-masing dan dirikan pesantren karena anda atau kalian telah layak memimpin pesantren dan guru bagi santrinya, hanya saja bila kalian masih merasa kurang dalam ilmu A, kalian bisa memperdalamnya di pesantren Anu yang dipimpin oleh Kyai X.” pernyataan Kyai tadi memberikan gambaran atau nuansa, bahwa Kyai itu adalah kurikulum.

Silahkan anda mau menjadi guru yang seperti apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: