Ritual-Ritual Siswa Jelang Ujian Nasional

by agnassetiawan

Ujian Nasional merupakan salah satu agenda pendidikan Indonesia untuk menguji kemampuan kompetensi siswa. Materi ujian nasional disusun berdasarkan kurikulum yang diberikan di setiap jenjang sekolah. Di Indonesia ujian nasional masih menjadi pro dan kontra bagi siswa dan guru. Saya melihat beberapa fenomena ritual siswa yang  terjadi di Indonesia sebelum UN dilaksanakan di beberapa daerah.

1. Mengunjungi makam leluhur/wali sebelum ujian

2. Melakukan istigosah bersama di sekolah

3. Mengundang psikolog ke sekolah

4. Memberi jampe ke pulpen atau pensil supaya mudah mengerjakan soal

Itulah beberapa ritual yang saya dapatkan dari berita di media elektronik selama UN berlangsung. Terlepas dari benar atau tidaknya berita tersebut saya menganalisa bahwa siswa Indonesia seolah tidak siap diuji kemampuan akademiknya dengan UN. Hal tersebut mengindikasikan bahwa mental siswa indonesia masih sangat lemah. Kenapa siswa datang ke makam leluhur/wali pada saat mau UN?Kenapa tidak pada hari-hari pada saat tidak ada ujian?Kenapa siswa pada saat istigosah kadang ada yang histeris bahkan pingsan seolah-olah mereka stress?Kenapa mengundang psikolog ke sekolah sebelum UN padahal di sekolah ada guru BK yang fungsinya sama?Kenapa sampai ada siswa yang datang ke “orang pintar” untuk minta jampe-jampe ke pulpen/pensil?

Adik-adik siswa Indonesia yang saya banggakan, ujian nasional merupakan salah satu bagian ujian kehidupan. Jika siswa betul-betul belajar dengan tekun dan rajin selama 3 tahun, tentunya kapan pun mereka akan diuji kemampuannya mereka harus siap. Guru memberikan materi pelajaran berdasarkan standar kompetensi yang tertera di Permendiknas. Artinya semua guru di Indonesia memberikan materi pelajaran yang bobotnya kurang lebih sama kepada setiap siswa. Lalu kenapa mesti takut oleh UN? Itulah mungkin salah satu sifat/karakter masyarakat Indonesia yang perlu dirubah. Terlepas mekanisme penilaian UN itu masih kurang sesuai atau apapun teknis di dalamnya, saya melihat bahwa guru dan siswa Indonesia di beberapa tempat ketakutan ketika UN berlangsung.

Sekarang jika UN dihapus kemudian diganti menjadi UAS saja dan sekolah yang mutlak menentukan kelulusan siswa, bisa jadi nanti siswa akan menjadi terlalu santai dan kurang peduli tentang ujian karena yang meluluskan adalah gurunya sendiri. Saya menggarisbawahi tentang fenomena ketakutan yang luar bisa ketika UN akan dilaksanakan. Guru sebagai pendidik tentunya bertugas menanamkan karakter kepada setiap peserta didiknya. Jika siswa masih saja takut diuji kompetensinya, maka bisa jadi guru tersebut gagal menanamkan karakter pada siswanya. Pemerintah tentunya akan berupaya memperbaiki sistem pendidikan kita agar sesuai dengan karakter bangsa indonesia sendiri.

Mau apapun bentuk ujiannya, baik ujian nasional atau ujian sekolah, siswa haruslah siap mengikutinya karena mereka sudah dididik selama 3 tahun. 3 Tahun guru membentuk karakter siswa di sekolah dan harusnya sifat takut dan stress ketika ujian harusnya tidak perlu terjadi. Jika mengikuti ujian nasional yang bentuknya mengerjakan soal di kertas saja sudah stress bagaimana jika nanti diberikan ujian kehidupan lainnya yang lebih sulit dibanding UN. Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: