Cerita Lomba Kreativitas Ilmiah Guru LIPI 2013

by agnassetiawan

Suasana tegang bercampur  dengan kehangatan di dalam Auditorium Kantor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pada 15 Nopember kemarin. Semua peserta finalis lomba karya ilmiah baik siswa, mahasiswa, dan guru resah menunggu pengumuman dewan juri terkait pemenang lomba. Begitupun dengan saya yang sebelumnya tidak menyangka bisa masuk salah satu finalis Lomba Kreativitas Ilmiah Guru Nasional LIPI 2013. Ketika diumumkan, ternyata karya ilmiah saya berhasil meraih juara 3 di kategori Guru SMA bidang IPSK. Suatu anugerah yang tak terkira rasanya, saya bisa mendapatkan prestasi tersebut. Penghargaan tersebut memacu saya untuk terus berkarya di kemudian hari.

1463670_698632826822919_1144513019_n

Guru merupakan ujung tombak utama dari pendidikan suatu bangsa. Berangkat dari situlah saya mencoba terus mengasah kompetensi saya dengan mengikuti Lomba Kreativitas Ilmiah guru Nasional (LKIG) yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Ini merupakan kali pertama saya mengikuti lomba karya ilmiah tingkat nasional dengan harapan yang tidak terlalu besar, masuk finalis pun saya sudah alhamdulilah. Saya mengikuti LKIG ini dengan mengirimkan karya ilmiah berjudul “Pemanfaatan Kardus Bekas sebagai Bahan Pebuat Alat Peraga Geografi Sederhana”. Alat peraga yang saya buat sangatlah sederhana, yaitu hanya membuat kenampakan miniatur morfologi sungai dari bahan kardus bekas yang tidak terpakai. Saya membuat alat peraga tersebut karena melihat banyaknya kardus bekas tak terpakai yang ada di lingkungan rumah. Dengan melihat berbagai sumber di internet dan sedikit inovasi saya membuat alat peraga tersebut. Pembuatan alat peraga tersebut berpedoman pada konsep 3 R (Reuse, Reduce, Recycle).

Di era komputer atau digital saat ini, pembelajaran di kelas tentunya akan lebih menarik jika menggunakan media komputer sebagai alat bantunya. Akan tetapi fasilitas komputer belum sepenuhnya tersebar merata di seluruh sekolah di Indonesia. Hal tersebut tentunya menjadi kendala dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas. Untuk menyiasati keterbatasan tersebut, maka diperlukan kreativitas dna inovasi dari seorang guru untuk membuat alat peraga alternatif seperti dari bahan kardus bekas. Pembuatan miniatur morfologi sungai dari kardus bekas ini memerlukan ketelitian dan kesabaran.

Berbekal bahan dasar kardus bekas itulah saya bisa pergi ke Jakarta untuk dipresentasikan di depan dewan juri. Bagi guru-guru di seluruh pelosok Indonesia, keterbatasan media belajar di sekolah jangan dijadikan hambatan dalam proses belajar. Seorang guru haruslah mengasah kreativitas dan inovasinya dalam pembelajaran agar siswa dapat meniru sifat positif tersebut. Dalam hadist  disebutkan “Man Jadda Wa Jada”, siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan menuai hasil. Begitupun bagi seorang guru, siap yang bersungguh-sungguh mendidik siswa maka ia akan menuai keberhasilan baik untuk siswa maupun dirinya sendiri. Selamat Berkarya Guru-Guru Tangguh Indonesia!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: